HANYA CATATAN SAJA

ini "HANYA CATATAN SAJA". bukan tulisan hebat. Tapi, bukan pula tak berarti. meski "HANYA CATATAN SAJA" ini merupakan tanda sebuah perjalanan.

MARI KITA IKUT MENANDAINYA...........

Selasa, Oktober 30, 2007

HUJAN,IS



Is, begitu aku mengenal namanya. Perempuan masih sebaya denganku. 24 tahun. Tingginya sekitar 165, rambutnya merah diwarna, matanya bening, tatapannya tajam. Cantik.
Aku mngenalnya di jalan Bandungan,saat kami secara tak sengaja berteduh dari hujan, di emper kios toko yang sedang tutup. Sebenarnya tidak ada yang istimewa. Semuanya serba kebetulan.
Karena hanya ada aku dan Is, aku lantas mencoba membuka pembicaraan, agar suasana tidak beku. “Darimana Mbak?”, begitu aku membuka pembicaraan. Sedikit kaku memang. Tapi, lumayan sebagai upaya memecah kebekuan suasana. “Dari sana mas, di seberang jalan itu”tangan is menunjuk hotel diseberang jalan. Sebuah hotel kelas melati yang lumayan bagus di kelasnya.
“Oh, dari luar kota, liburan dan bermalam mbak?”
“Enggak kok, aku kos di daerah sini, paling seratus meter dari sini”
Aneh, itu kesan yang aku tangkap setelah is mengatakan bahwa ia kos di daerah tersebut. Lantas kenapa ia keluar dari hotel. Ah, aku ini terlalu ingin tahu banyak urusan orang lain. Bukankah sah saja seseorang mau pergi ketempat manapun yang ia suka. Barangkali ia sedang bosan tidur di kos, lalu memboking kamar hotel untuk beberapa waktu untuk mendapatkan suasana baru. Atau barangkali kos tempat ia tinggal gentingnya bocor sehingga ia tidak bisa tidur karena kasurnya basah oleh air hujan, bisa saja.
Ada daya tarik tersendiri yang melekat pada Is, yang aku tak tahu. Hampir tigapuluh menit kami berteduh. Selama itu pula sesekali aku mencuri pandang, mengamati tiap geraknya. Ia cantik dan gemulai tiap gerakkannya. Sesekali tangan kecilnya menengadah ke kucuran air hujan yang jatuh dari genting. Lentik seperti menari dan bercumbu bersama hujan.
“Indah ya mas?”
“Apanya” tanyaku
“Hujannya”
“Oh…”
Benar-benar aneh. Hujan yang bagiku cukup sangat tidak menyenangkan karena dingin yang menyertainya nyaris membekukan tulang-belulang dan seperti menyumbat pori-pori tapi bagi Is hujan deras itu begitu indah.
Aku begitu benci dengan hujan. Aroma tanah yang tersiram hujan membawa ingatanku pada pada masa kecil dulu. Begitu bebas, indah, dan banyak kesempatan bagiku untuk tersenyum. Aku selalu berlari ke tanah lapang. Dan berbasah-basah ria. Terlalu asiknya terkadang sampai ibuku berteriak-teriak memintaku untuk menyudahi keceriaanku bermain bersama hujan, ia selalu khawatir dengan kesehatanku jika aku bermain hujan.
Sekarang aku lebih suka musim kemarau karena tidak ada hujan. Musim kemarau memberiku banyak ruang untuk bergerak kemanapun aku suka tanpa harus berteduh. Berteduh sama saja aku sudah kalah, sama saja aku telah dikalahkan oleh kenangan berteduhpun telah memasungku, bayangkan saja berapa waktu yang tersisa jika aku harus berhenti untuk berteduh dari perjalanan yang seharusnya sudah aku tempuh dan harusnya aku sudah menyelesaikan perjalanan hingga bermeter-meter jarak tempuhku. Aku memang berusaha untuk menjadi seorang yang dinamis, aku ingin orang tidak pernah mampu melacak keberadaanku. Detik ini aku disini sekian detik depannya aku sudah berada di lain tempat. Aku adalah tipe-tipe orang pekerja, meskipun saat ini aku hanyalah seorang pengangguran yang harus menafkahi anak istri. Menjadi seorang yang dinamis adalah pilihanku. Aku sama sekali tidak pernah berfikir apa yang aku dapat dari kesibukanku yang hanya ngalor-ngidul tanpa arah yang jelas, tapi aku yankin suatu saat aku pasti berguna. Ya hanya itu cita-citaku, ber-gu-na. Aku pernah menjadi seorang penulis lepas, namun pekerjaanku yang sebenarnya cukup menghasilkan itu harus mandeg karena media yang menjadi wadah aktualisasiku sebagai seorang penulis itupun mandeg, gulung tikar.
Masih saja aku termenung menerjemahkan satu persatu barisan air hujan yang merebahkan diri ke tanah. Sepertinya air itu merasa riang menari-nari setelah menyentuh tanah. Ah, mungkin ia belum tahu bahwa kehadirannya ditanah justru akan menghadirkan banyak masalah. Mungkin karena memang ia masih kecil baru tetesan saja, coba jika usianya sudah dewasa mungkin ia tidak akan seceria itu. Bahkan lebih nampak muram, hingga terkadang ia harus mengamuk secara tiba-tiba dan memporak-porandakan rumah, pohonan atau apa saja yang mencoba menghalangi setiap perjalanan air. Kalau sudah begitu ia akan menyita banyak perhatian banyak orang.
Hujan mulai berangsur reda. Sudah hampir satu jam aku berada di emper toko bersama Is. Selama itu pula hanya satu dua kalimat saling terucap diantara aku dan Is. Tidak banyak kata.
“Mas, hujan sudah mereda”
“Iya…”
“Aku pulang dulu ke kos, Mas”
“Iya…sudah sore aku juga mau meneruskan pengembaraanku”
Is bergegas, begitupun aku. Sampai saat ini aku tidak pernah tahu alasn apa yang mendorong is untuk menyewa kamar hotel padahal tempat kosnya hanya berjarak seratus meter dari hotel tersebut. Aku pun terus mengembara sampai saat ini.

Tidak ada komentar: